Terwujudnya suatu kebudayaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yaitu hal-hal yang menggerakkan manusia untuk menghasilkan kebudayaan sehingga dalam hal ini kebudayaan merupakan produk kekuatan jiwa manusia sebagai makhluk Tuhan yang tertinggi. Oleh karena itu, walaupun manusia memiliki tubuh yang lemah bila dibandingkan dengan binatang, tetapi dengan akalnya manusia mampu untuk menciptakan alat sehingga akhirnya dapat menjadi penguasa dunia. Dengan kualitas dirinya, manusia mampu menempatkan dirinya di seluruh dunia. Tidak seperti binatang, yang hanya dapat menempatkan diri di dalam lingkungannya. Oleh karena itu, manusia dikatakan sebagai insan budaya. Dan karena kebudayaan meliputi segala perbuatan manusia, maka kebudayaan selalu diperluas. Irama kehidupan manusia yang begitu cepat dengan sendirinya akan mempengaruhi perubahan tersebut.
Kita tahu di Indonesia sendiri terdapat beribu-ribu budaya yang sampai saat ini kita belum mengetahui keseluruhan budaya yang ada di indonesia. Dengan banyaknya budaya tersebut, tentu negara kita memiliki keunggulan yaitu tentang pewarisan budaya. Kebudayaan indonesia yang sangat kental akan mistis dan spiritualisme inilah yang menjadikan kekuatan positif untuk tidak terpengaruh besar terhadap kebudayaan barat. Namun, fakta di lapangan yang ada ialah kebudayaan barat yang semakin lambat laun akan mempengaruhi kebudayaan Indonesia. Banyak kebudayaan yang dipengaruhinya, misalnya kebudayaan mengenai keagamaan, sosial, politik, pendidikan bahkan ekonomi.
Masuknya kebudayaan barat ini termasuk strategi-strategi kebudayaan yang dilakukan untuk merombak cara berfikir naturalisme terhadap mitos dan superstisi masyarakat indonesia menjadi berfikir rasional. Memang benar, cara berfiki rasional bisa menjadikan akal dan pikiran kita berkembang secara luas seperti yang dikatakan Van Peursen bahwasanya tahap perkembangan kebudayaan manusia terdiri dari tiga tahap yaitu tahap mistis, tahap ontologis, dan kemudian menuju tahap fungsional. Kebudayaan barat sendiri telah mencapai tahap-tahap tersebut dengan terwujudnya pemikiran masyarakat yang bersifat rasional sehingga meninggalkan mistis dan mitos-mitos bahkan tahap mereka pun sampai pada tahap fungsional. Hal tersebut dibuktikan dengan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang fungsional di budaya barat. Hal ini berbeda dengan budaya Nusantara seperti yang dikatakan Alisjahbana. Alisjahbana mengungkapkan bahwa bbudaya Nusantara memilik tiga lapisan yaitu Pertama, lapisan asli budaya Indonesia yang lebih kurang primitif. Kedua, lapisan budaya Hindu (India) yang telah diwarnai oleh budaya literasi. Ketiga, lapisan budaya islam yang telah membawa bersamanya rasionalisme dan ilmu pengetahuan. Masyarakat indonesia masih berada dalam lapisan-lapisan tersebut dan masih belum bisa mencapai tahap ontologis bahkan fungsional seperti budaya barat. Hal tersebut dikarenakan lapisan pertama dan kedua yang kental akan spritualisme. Pada lapisan ketiga memang benar bahwasanya membawa pemikiran secara rasional, tetapi Alisjahbana belum sepenuhnya mengerti tentang ragam masyarakat indonesia secara universal. Bahwasannya mayoritas bangsa Indonesia sesungguhnya tidak atau belum semodernis itu sehingga lapisan ketiga masih belum bisa dikatakan seperti yang diungkapkan Alisjahbana. Sesungguhnya pemikiran spritualisme panteisme masyarakat indonesia inilah yang bisa menjadi kekuatan budaya Nusantara dari dulu hingga sekarang. Dengan begitu kekuatan budaya Nusantara ini sangatlah kuat.
Setelah sektor budaya Nusantara telah menguatkan dirinya pada posisi spiritualisme panteismenya, barulah kita beralih pada starategi kebudayaan dan revolusi mental terhadap sumber daya manusianya. Fakta dilapangan strategi-strategi kebudayaan untuk pola pikirterhadap SDM masih sangat kurang, hal ini perlu dibenahi dan diperbaiki demi kemajuan bangsa. Strategi-strategi yang harus dibenahi terletak pada sektor pendidikan, sosial, politik, agama yang humanisme, dan ekonomi. Strategi-strategi tersebut haruslah dipikir secara matang agar kedepannya menghasilkan kebudayaan yang berguna dann bermanfaat. Dengan mewujudkan strategi-strategi kebudayaan yang disiapkan tersebut, mentalitas manusia jika tidak dirombak yang terjadi hanyalah omong-kosong belaka. Banyak terjadi hal-hal yang merugikan bangsa jika saja tidak adanya revolusi mental, akibatnya banyak pembangunan yang tidak berjalan sempurna, banyak pelanggaran-pelanggaran norma agama dan sosial, korupsi yang akan terus membeludak. Mentalitas manusia diperlukan untuk dan demi pembangunan bangsa. Untuk itu diperlukan Revolusi Mental seperti yang dikatakan Presiden terpilih yaitu Bapak Jokowi.
Pernyataan yang disampaikan diatas bukanlah sebuah kritik ataupun tanggapan melainkan sebuah kesepakatan pemikiran yang sama dan satu tujuan yaitu bahwasannya jangan merubah karakteristik bangsa Indonesia yang memiliki budaya Nusantara. Memang benar karakter budaya Indonesia tidak sama seperti budaya barat yang telah meninggalkan polemik mitos dan berfikir rasional akan tetapi bangsa indonesia masih mempercayainya. Namun, disinilah letak kekuatan budaya Nusantara kita yang dapat mempersatukan masyarakat Indonesia. Sehingga jika pemikiran masyarakat indonesia ingin seperti budaya barat, jangan merombak budaya Nusantara bila tidak ingin masyarakat nusantara terpecah-belah melainkan merubah dalam segi Revolusi Mental masyarakatnya. Revolusi mental dibutuhkan untuk mencapai sebuah pemikiran yang lebih berguna dan bermanfaat bagi sesama. Dengan diiringinya strategi-strategi kebudayaan demi menatap masa depan yang cemerlang, kedua faktor inilah yang nantinya membuat bangsa Indonesia lebih baik dan lebih maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar